A. Latar Belakang
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan
sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sinnim
dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.
Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma
gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki
kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan
edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina
panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di
depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam.
Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan
mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah
membuat jalur yang bercabang.
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium
tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak
merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka kami selaku penulis
mengangkat beberapa permasalahan, yaitu bagaimana konsep dasar dan konsep
keperawatan pada klien dengan scabies, khususnya pada anak?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk membahas konsep
dasar dari scabies dan mengetahui proses keperawatan pada klien dengan scabies.
A. Definisi
Skabies
adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi (kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. Humini.s. Scabies merupakan penyakit
kulit menular yang disebabkan oleh seekor tungau (kutu/mite) yang
bernama Sarcoptes scabei, filum Arthopoda ,
kelas Arachnida, ordoAckarina, superfamili Sarcoptes.
Pada manusia oleh S. scabiei var homonis, pada babi oleh S.
scabiei var suis, pada kambing oleh S. scabiei var caprae, pada
biri-biri oleh S. scabiei var ovis. (Adhi
Djuanda. 2007).
Scabies adalah
penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang
mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Penyebabnya scabies adalah Sarcoptes scabiei. (Isa
Ma’rufi, Soedjajadi K, Hari B N, 2005).
Scabies adalah penyakit zoonosis yang
menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia
atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang
disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997).
Jadi menurut kelompok scabies adalah penyakit kulit yang
disebabkan oleh infeksi kuman parasitik (Sarcoptes scabiei)yang
mudah menular manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat
mengenai semua ras dan golongan yang ada dimuka bumi ini. Skabies
adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.
Sinonim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal
agogo. Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal Sarcoptes scabeitersebut, kutu tersebut memasuki kulit
stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok
sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Di dalam terowongan ini, kutu bersarang dan mengeluarkan telurnya.
Dalam waktu tujuh sampai 14 hari, telur menetas dan membentuk larva yang dapat
berubah menjadi nimfa, selanjutnya terbentuk parasit dewasa. Hal yang paling
disukai kutu betina adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, yaitu daerah
sekitar sela jari longlegs dan tangan, siku, pergelangan tangan, bahu, dan
daerah kemaluan. Pada bayi yang memiliki kulit serba tipis, telapak tangan,
kaki, muka, dan kulit kepala sering diserang kutu tersebut.
Faktor penunjang penyakit ini antara lain social ekonomi rendah,
hygiene buruk, sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan
perkembangan demografis serta ekologik. Penularan penyakit skabies inidapat
terjadi scara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak heran jika penyakit
gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama,
di pesantren.
B.
Etiologi
Penyebabnya penyakit skabies sudah dikenal lebih dari
100 tahun lalu sebagai akibat infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei atau pada manusia
disebut Sarcoptes scabiei varian hominis. Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, super famili Sarcoptes (Djuanda, 2010).
Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman Sercoptes
scabei varian hominis. Sarcoptes scabieiini termasuk filum Arthopoda,
kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia
disebut Sarcoptes scabiei var hominis. Kecuali itu
terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval,
punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna
putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450
mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240
mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2pasang
longlegs di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2pasang longlegs kedua
pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan
longlegs ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat
perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi
(perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang
masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina
yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan
2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari
sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat
hidup sebulan lamanya.
Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi
larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan,
tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang
mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus
hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12
hari. Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva
meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva
berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati
setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi.
Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang
7-14 hari.Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya
lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih
tipis, maka seluruh badan dapat terserang penyakit skabies ini.
C. Pengklasifikasian Skabies
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan
sulit dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk
tersebut antara lain (Sungkar, S, 2005) :
- Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
- Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.
- Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.
- Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
- Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan scabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah.
- Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap. M, 2000).
- Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (Harahap. M, 2000).
D.
Epidemiologi
Faktor yang menunjang perkembangan penyakit
ini antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan
seksual dan sifatnya promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis
dan perkembangan demografi serta ekologi (Djuanda, 2010).
E.
Cara Penularan
Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, adapun cara penularannya adalah:
Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, adapun cara penularannya adalah:
- Kontak
langsung (kulit dengan kulit)
Penularan skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Pada orang dewasa hubungan seksual merupakan hal tersering, sedangkan pada anakanak penularan didapat dari orang tua atau temannya. - Kontak tidak
langsung (melalui benda)
Penularan melalui kontak tidak langsung, misalnya melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk dahulu dikatakan mempunyai peran kecil pada penularan. Namun demikian, penelitian terakhir menunjukkan bahwa hal tersebut memegang peranan penting dalam penularan skabies dan dinyatakan bahwa sumber penularan utama adalah selimut (Djuanda, 2010).
F.
Manifestasi Klinis
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut
:
- Pruritus noktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
- Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seliruh anggota keluarga.
- Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada uung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tpis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan ulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
- Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostk. Dapat ditemikan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Pada pasien yang selalu menjaga hygiene, lesi yang timbul hanya
sedikit sehingga diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jika penyakit
berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulsis.
G.
Patofisiologi Skabies
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau
skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal
yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau
yang memerlukan waktu kurang lebih satu bulan setelah infestasi. Pada saat itu
kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika
dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan
infeksi sekunder (Djuanda, 2010).
Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak
kulit yang kuat, menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang
terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan
kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika.
Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.
Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
l
Kontak kulit kuat
l
Bersalaman bergandengan
l
Timbul lesi
l
Pergelangan tangan
l
l
Waktu 1 bulan setelah infestasi
Timbul papul,vesikel,urtika timbul erosi,eks koriosi, krusta
Digaruk infeksi skunder
Kelainan kulit dermatitis menyebar luas
H. Pemeriksaan Penunjang
Cara menemukan tungau :
- Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesiel. Congkel dengan jarum dan letakkan diatas kaca obyek, lalu tutup dengan kaca penutup dan lihat dengan mikroskop cahaya.
- Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
- Dengan membuat biopsi irisan, caranya ; jepit lesi dengan 2 jari kemudian buat irisa tipis dengan pisau dan periksa dengan miroskop cahaya.
- Dengan biopsy eksisional dan diperiska dengan pewarnaan HE
I.
Penatalaksanaan
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium
tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak
merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
Menurut Sudirman (2006),
penatalaksanaan skabies dibagi menjadi 2 bagian :
a. Penatalaksanaan
secara umum.
Pada pasien
dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan mandi secara teratur setiap hari. Semua
pakaian, sprei, dan handuk yang telah digunakan harus dicuci secara teratur dan
bila perlu direndam dengan air panas. Demikian pula dengan anggota keluarga
yang beresiko tinggi untuk tertular, terutama bayi dan anak-anak, juga harus
dijaga kebersihannya dan untuk sementara waktu menghindari terjadinya kontak
langsung. Secara umum meningkatkan kebersihan lingkungan maupun perorangan dan
meningkatkan status gizinya. Beberapa syarat pengobatan yang harus
diperhatikan:
- Semua anggota keluarga harus diperiksa dan semua harus diberi pengobatan secara serentak.
- Higiene perorangan : penderita harus mandi bersih, bila perlu menggunakan sikat untuk menyikat badan. Sesudah mandi pakaian yang akan dipakai harus disetrika.
- Semua perlengkapan rumah tangga seperti bangku, sofa, sprei, bantal, kasur, selimut harus dibersihkan dan dijemur dibawah sinar matahari selama beberapa jam.
b. Penatalaksanaan
secara khusus.
Dengan menggunakan
obat-obatan (Djuanda, 2010), obat-obat anti skabies yang tersedia dalam bentuk
topikal antara lain:
- Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.
- Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
- Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losio, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cup sekali dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.
- Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.
- Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.
- Pemberian antibitika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.
J. Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakain obat,
serta syarat pengobatan dapat menghilangkan faktor predisposisi (antara lain
hiegene), maka penyakit ini memberikan prognosis yang baik (Djuanda, 2010).
K.
Pencegahan Cara pencegahan
penyakit skabies adalah dengan :
- Mandi secara teratur dengan menggunakan sabun.
- Mencuci pakaian, sprei, sarung bantal, selimut dan lainnya secara teratur minimal 2 kali dalam seminggu.
- Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali.
- Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.
- Hindari kontak dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi tungau skabies.
- Menjaga kebersihan rumah dan berventilasi cukup.
- Menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk menjaga infestasi parasit. Sebaiknya mandi dua kali sehari, serta menghindari kontak langsung dengan penderita, mengingat parasit mudah menular pada kulit. Walaupun penyakit ini hanya merupakan penyakit kulit biasa, dan tidak membahayakan jiwa, namun penyakit ini sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Bila pengobatan sudah dilakukan secara tuntas, tidak menjamin terbebas dari infeksi ulang, langkah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
- Cuci sisir, sikat rambut dan perhiasan
rambut dengan cara merendam di cairan antiseptik.
- Cuci semua handuk, pakaian, sprei dalam
air sabun hangat dan gunakan seterika panas untuk membunuh semua telurnya,
atau dicuci kering.
- Keringkan peci yang bersih, kerudung dan
jaket.
- Hindari pemakaian bersama sisir, mukena atau jilbab(Depkes, 2007).
BAB III
PROSES KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata
a.
Identitas pasien
b.
Identitas orang tua
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Pada pasien scabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan
merasakan gatal terutama pada malam hari.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi
edema karena garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien pernah masuk RS karena alergi.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang
klien alami yaitu kurap, kudis.
3. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi terhadap kesehatan
Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat
atauapabila tidak terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS
terdekat.
b. Pola aktivitas latihan
Aktivitas latihan selama sakit : Aktivitas 0 1 2 3 4
1)
Makan
2)
Mandi
3)
Berpakaian
4)
Eliminasi
5)
Mobilisasi di tempat tidur
Keterangan
0 : Mandiri
1 : Dengan menggunakan alat bantu
2 : Dengan menggunakan bantuan dari orang lain
3 : Dengan bantuan orang lain dan alat bantu
4 : Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas
0 : Mandiri
1 : Dengan menggunakan alat bantu
2 : Dengan menggunakan bantuan dari orang lain
3 : Dengan bantuan orang lain dan alat bantu
4 : Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas
c. Pola istirahat tidur
Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat
pada malam hari.
d. Pola nutrisi metabolik
Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.
e. Pola elimnesi
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau
khas dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.
f. Pola kognitif perceptual
Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas,
pendengaran dan penglihatan normal.
g. Pola peran hubungan : Sistem
dukungan orang tua.
h. Pola konsep diri
i. Pola seksual reproduksi
Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.
j. Pola koping
1) Masalah utama yang terjadi selama
klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien menjadi malas untuk bekerja.
2) Kehilangan atau perubahan yang
terjadi klien malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
B. Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri akut berhubungan dengan agen
cidera biologi.
2.
Gangguan pola tidur berhubungan
dengan rasa gatal yang hebat khususnya pada malam hari.
3.
Gangguan citra tubuh berhubungan
dengan perubahan dalam penampilan.
4.
Ansietas berhubungan dengan
perubahan status kesehatan.
5.
Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan edema.
6.
Resiko infeksi dengan factor
risiko:
a. Jaringan kulit rusak
b. Prosedur infasif
C.
Rencana Intervensi Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan asuhan keperawatan diharapkan nyeri klien dapat teratasi dengan
kriteria hasil :
1.
Nyeri terkontrol
2.
Gatal mulai hilang
3.
Puss hilang
4.
kulit tidak memerah
Intervensi:
1. Kaji intensitas nyeri,
karakteristik dan catat lokasi.
2. Berikan perawatan kulit dengan
sering, hilangkan rangsangan lingkungan yang kurang menyenangkan.
3. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgesic.
4. Kolaborasi pemberian antibiotika.
Dx 2: Gangguan pola tidur berhubungan
dengan rasa gatal yang hebat khususnya pada malam hari.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan asuhan keperawatan diharapkan tidur klien tidak terganggu kriteria
hasil :
1.
Mata klien tidak bengkak lagi.
2.
Klien tidak sering terbangun di
malam hari.
3.
Klien tidak pucat.
Intervensi:
1.
Kaji tidur klien
2.
Berikan kenyamanan pada klien
(kebersihan tempat tidur klien)
3.
Kolaborasi dengan dokter pemberian
analgetic.
4.
Catat banyaknya klien terbangun
dimalam hari.
5.
Berikan lingkungan yang nyaman dan
kurangi kebisingan.
6.
Berikan minum hangat (susu) jika
perlu.
7.
Berikan musik klasik sebagai
pengantar tidur
Dx 3 : Gangguan citra tubuh
berhubungan dengan perubahan dalam penampilan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
asuhan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami gangguan dalam cara
penerapan citra diri kriteria hasil :
1. Mengungkapkan penerimaan atas
penyakit yang di alaminya.
2. Mengakui dan memantapkan kembali
system dukungan yang ada.
Intervensi:
1. Dorong individu untuk
mengekspresian perasaan khususnya mengenai pikiran, pandangan dirinya.
2. Dorong individu untuk bertanya
mengenai masalah penanganan, perkembangan kesehatan.
Dx 4 : Ansietas berhubungan
dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
asuhan keperawatan diharapkan klien tidak cemas lagi kriteria hasil :
1.
Klien tidak resah
2.
Klien tampak tenang dan mampu
menerima kenyaataan
3.
Klien mampu mengidentifiasi dan
mengungkapkan gejala cemas
Intervensi:
1.
Identifiasi kecemasan
2.
Gunakan pendekatan yang
menyenangkan.
3.
Temani pasien untuk memberian
keamanan dan mengurangi takut.
4.
Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan.
5.
Berikan informasi faktual tentang
diagnosis, tindakan prognosis.
6.
Berikan obat untuk mengurangi
kecamasan
Dx 5 : Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan edema.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
asuhan keperawatan diharapkan lapisan kulit klien terlihat normal kriteria
hasil :
1.
Integritas kulit yang baik dapat
dipetahankan (sensasi, elastisitas, temperatur).
2. Tidak ada luka atau lesi pada
kulit.
3. Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembapan kulit serta perawatan alami.
4. Perfusi jaringan baik .
Intervensi:
1.
Anjurkan pasien menggunakan pakaian
yang longgar.
2.
Jaga kebersihan kulit agar tetap
bersih dan kering.
3.
Monitor kulit akan adanya
kemerahan.
4.
Mandikan pasien dengan air hangat
dan sabun
Dx 6 : Resiko infeksi dengan factor risiko:
a.
Jaringan kulit rusak
b.
Prosedur infasif
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak terjadi resiko infeksi
kriteria hasil :
1.
Klien bebas dari tanda dan gejala
infeksi.
2.
Menunjukan kemampuan untuk mencegah
timbulnya infeksi.
3.
Menunjukkan perilaku hidup sehat.
4. Mendeskripsikan proses penularan
penyakit, factor yang mempengaruhi penularan dan penatalaksanaannya.
Intervensi:
1.
Monitor tanda dan gejala infeksi.
2.
Monitor kerentanan terhadap
infeksi.
3.
Batasi pengunjung bila perlu.
4. Instruksikan pada pengunjung untuk
mencuci tangan saat berkunjung dan setelah meninggalkan pasien.
5. Pertahankan lingkngan aseptic
selama pemasangan alat.
6. Berikan perawatan kulit pada area
epidema.
7. Inspeksi kulit dan membrane mukosa
terhadap kemerahan, panas.
8. Inspeksi kondisi luka
9. Berikan terapi anibiotik bila
perlu.
10. Ajarkan cara menghindari infeksi.
BAB IV
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit scabies ini merupakan
penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut
memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau
berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter.
Akibatnya, penyakit ini menimbulkan
rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan
jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat
pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di
belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran
setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat
terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.
Syarat obat yang ideal adalah
efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik,
tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh
dan harganya murah.
DAFTAR PUSTAKA
Defka. 2010. Asuhan Keperawatan Skabies. (http://defkanurse.wordpress.com/2010/08/06/asuhan-keperawatan-skabies/, diakses tanggal 11 Desember
2015).
Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wardhani, W.A., dan Setiowulan,
wiwiek │Eds.│. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Auscalapius.
Nenk. 2009. Skabies (http://www.lenterabiru.com/2009/09/skabies.htm, diakses tanggal 11 Desember
2015).
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 3
Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Terimakasih dan semoga bermanfaat..
Salam Sehat,,, Salam Perawat,,,
1 comment:
Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Gumboro Pada Ayam – Kembali lagi di kanal informasi ilmu peternakan. Masih berkaitan Jika menggunakan cabai bubuk korea warnanya akan jauh lebih merah dan jika menggunakan cabai lokal warnanya tidak secerah cabai korea tapi rasanya lebih mantap.
Cara Mengobati Penyakit Scabies Pada Kelinci Cara Mengobati Penyakit Mata (Snot) Pada Lovebird Ufa Bunga SMartphone
Post a Comment